Mengapa Berfilsafat?
Sebagai akademisi belajar tentang filsafat adalah merupakan suatu kebutuhan dan keharusan. Karena kita dalam melakukan sesuatu itu harus didasari dengan pembuatan keputusan. Dimana jika akan mengeluarkan atau menetapkan suatu keputusan harus didasari dengan kesepakatan. Dan kesepakatan itu ada karena buah pikiran. Buah pikiran itu ada dari pemikiran tiap individu yang menggunakan akal/rasionya. Itu berarti dia sudah berfilsafat.
Ilmu filsafat mempelajari berbagai hal meliputi dunia, pengetahuan, akal pikiran, hubungan manusia-Tuhan, hubungan manusia-manusia, hubungan manusia-alam, secara mendalam (radikal), menyeluruh (komprehensif), dan utuh (integral).
Kita ambil contoh misalnya mahasiswa yang memfokuskan pada studi Filsafat Ilmu dan Teknologi. IPTEK telah membawa kemajuan yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Tetapi, dampak negatifnya juga sangat besar. Apakah IPTEK harus dijauhkan dari kehidupan manusia, atau sebaliknya, kehidupan manusia akan bergantung pada IPTEK? Filsafat memberi pemahaman mengenai kerangka dasar dan strategi pengembangan dan penerapan IPTEK.
Contoh lain misalnya mahasiswa yang memfokuskan pada studi Filsafat Religi dan Budaya. Apa hakikat agama, mengapa manusia beragama, apa pengaruhnya bagi kehidupan, bagaimana seharusnya beragama? Mengapa muncul konflik karena agama? Bagaimana hubungan agama-budaya? Semua persoalan tersebut dapat dipahami melalui studi Filsafat Religi dan Budaya, dengan mengadakan telaah filasafati-filasafati.
Sedangkan mahasiswa yang memfokuskan pada studi Sosial dan Politik, memberikan kerangka dasar pemahaman tentang berbagai persoalan kemasyarakatan dan politik. Misalnya asal dan bentuk masyarakat, akar dan manajemen konflik di masyarakat, untuk kemudian mampu merumuskan berbagai alternatif bagi solusinya, merumuskan konsep/model social-politik ideal.
Studi etika mempelajari materi-materi untuk memberi dasar pemahaman mengenai moral, untuk dapat menyikapi dan merumuskan berbagai konsep alternative persoalan moralitas.
Jadi dengan berfilsafat sesuatu yang masih menjadi sebuah masalah atau sesuatu yang masih tabu atau masih ragu, itu dicoba dipecahkan dengan berfilsafat. Contoh ketika diskusi sedang berjalan di kelas. Dimana di dalam diskusi itu tidak terlepas dari pertanyaan, pernyataan, tanggapan, sanggahan atau bantahan. Ketika itu mahasiswa dituntut untuk berfikir. Dan jika mahasiswa tersebut bisa mengungkapkan baik itu pertanyaan, pernyataan, tanggapan, sanggahan, atau bantahan, itu berarti mahasiswa sudah berfilsafat dengan menghargai pendapatnya sendiri, dengan cara berani mengutarakannya di dalam ruang diskusi tesebut.
Oleh karena itu kita (akademisi)perlu belajar tentang filsafat. karena selain seperti yang telah diuraikan di atas tadi juga banyak ruang lingkupnya. filsafat sangat bermanfaat bagi kehudupan sehari-hari pada umumnya.
Saturday, July 19, 2008
Pengertian Filsafat
Pengertian Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya.”
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai “Himbauan kepada kebijaksanaan”.
Harun Nasution beranggapan bahwa kata filsafat bukan berasal dari struktur kata Philos dan shopia, philos dan shophos atau filosofen. Tetapi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang struktur katanya berasal dari kata philien dalam arti cinta dan shofos dalam arti wisdom. Orang Arab menurut Harun memindahkan kata Philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan tabi’at susunan kata-kata bahasa Arab, yaitu filsafat dengan pola (wajan) fa’lala, fa’lalah, dan fi’la. Berdasarkan wajan itu, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya disebut falsafat atau Filsaf.
Harun lebih lanjut menyatakan bahwa kata filsafat yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya kata filsafat terambil dari bahasa Barat, philosophy. Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai:
1.Pengetahuan tentang hikmah
2.Pengetahuan tentang prinsip atau dasar
3.mencari kebenaran
4.Membahas dasar dari apa yang dibahas
Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Phyloshophy (Inggris), Philosophie (Jerman, Belanda dan Perancis). Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani Philosphia. Kata philosophia sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Philien, Philos dan shopia. Philien berarti mencintai, philos berarti teman dan sophos berarti bijaksana, shopia berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia menjadi sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda)
Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.
Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya.”
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai “Himbauan kepada kebijaksanaan”.
Harun Nasution beranggapan bahwa kata filsafat bukan berasal dari struktur kata Philos dan shopia, philos dan shophos atau filosofen. Tetapi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang struktur katanya berasal dari kata philien dalam arti cinta dan shofos dalam arti wisdom. Orang Arab menurut Harun memindahkan kata Philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan tabi’at susunan kata-kata bahasa Arab, yaitu filsafat dengan pola (wajan) fa’lala, fa’lalah, dan fi’la. Berdasarkan wajan itu, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya disebut falsafat atau Filsaf.
Harun lebih lanjut menyatakan bahwa kata filsafat yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya kata filsafat terambil dari bahasa Barat, philosophy. Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab. Sehingga kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai:
1.Pengetahuan tentang hikmah
2.Pengetahuan tentang prinsip atau dasar
3.mencari kebenaran
4.Membahas dasar dari apa yang dibahas
Ali Mudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Phyloshophy (Inggris), Philosophie (Jerman, Belanda dan Perancis). Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani Philosphia. Kata philosophia sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Philien, Philos dan shopia. Philien berarti mencintai, philos berarti teman dan sophos berarti bijaksana, shopia berarti kebijaksanaan. Dengan demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia menjadi sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda)
Tuesday, July 15, 2008
Teori Hierarki Kebutuhan Maslow / Abraham Maslow - Ilmu Ekonomi
Menurut Abraham Maslow manusia mempunyai lima kebutuhan yang membentuk tingkatan-tingkatan atau disebut juga hirarki dari yang paling penting hingga yang tidak penting dan dari yang mudah hingga yang sulit untuk dicapai atau didapat. Motivasi manusia sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mendasar yang perlu dipenuhi.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
Manusia tidak lepas dengan kebutuhan-kebutuhan yang pokok, seperti makanan, tempat tinggal, pakaian. Dan berangkat dari itu didampingi dengan kebutuhan biologis juga. Dimana sesudah kita makan dan minum, maka akan buang air besar dan buang air kecil. Karena itu adalah normal.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
Sesudah kebutuhan sandang, pangan, dan kebutuhan fisiologis, tentunya manusia ingin merasakan kedamaian dan ketenangan salah satu contohnya, bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa saklit, bebas dari terror, dan sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
Manusia adalah makhluk sosial yang harus pandai bergaul dan beradaptasi, maka dari itu sangat penting untuk memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis. Karena manusia pada dasarnya hadir dengan adanya rasa cinta. Supaya terlihat lebih harmonis maka harus ada rasa cinta, cinta sesama.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
Sebuah pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan lain-lain yang berbentuk penghargaan itu adalah akan menjadi pemacu dan pemberi motivasi. Supaya bisa lebih meningkatkan potensi dan bakat yang ada pada diri seseorang.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.
Manusia mempunyai bakat dan minat yang berbeda-beda. Dan dalam bidang tertentu. Jadi manusia mempunyai pilihan untuk kemana dirinya diarahkan sesuai dengan suara hatinya.
Kebutuhan maslow harus memenuhi kebutuhan yang paling penting dahulu kemudian meningkat ke yang tidak terlalu penting. Untuk dapat merasakan nikmat suatu tingkat kebutuhan perlu dipuaskan dahulu kebutuhan yang berada pada tingkat di bawahnya.
Lima (5) kebutuhan dasar Maslow - disusun berdasarkan kebutuhan yang paling penting hingga yang tidak terlalu krusial :
1. Kebutuhan Fisiologis
Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
Manusia tidak lepas dengan kebutuhan-kebutuhan yang pokok, seperti makanan, tempat tinggal, pakaian. Dan berangkat dari itu didampingi dengan kebutuhan biologis juga. Dimana sesudah kita makan dan minum, maka akan buang air besar dan buang air kecil. Karena itu adalah normal.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan lain sebagainya.
Sesudah kebutuhan sandang, pangan, dan kebutuhan fisiologis, tentunya manusia ingin merasakan kedamaian dan ketenangan salah satu contohnya, bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa saklit, bebas dari terror, dan sebagainya.
3. Kebutuhan Sosial
Misalnya adalah : memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
Manusia adalah makhluk sosial yang harus pandai bergaul dan beradaptasi, maka dari itu sangat penting untuk memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis. Karena manusia pada dasarnya hadir dengan adanya rasa cinta. Supaya terlihat lebih harmonis maka harus ada rasa cinta, cinta sesama.
4. Kebutuhan Penghargaan
Contoh : pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
Sebuah pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan lain-lain yang berbentuk penghargaan itu adalah akan menjadi pemacu dan pemberi motivasi. Supaya bisa lebih meningkatkan potensi dan bakat yang ada pada diri seseorang.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
Adalah kebutuhan dan keinginan untuk bertindak sesuka hati sesuai dengan bakat dan minatnya.
Manusia mempunyai bakat dan minat yang berbeda-beda. Dan dalam bidang tertentu. Jadi manusia mempunyai pilihan untuk kemana dirinya diarahkan sesuai dengan suara hatinya.
Struktur Kepribadian
Sigmund Freud
Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
1. Id
Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
2. Ego
Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.
3. Superego
Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah:
Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.
Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego.
Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
Struktur Kepribadian
Dalam teori psikoanalitik, struktur kepribadian manusia itu terdiri dari id, ego dan superego.
1. Id
Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan “pleasure principle”.
2. Ego
Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.
3. Superego
Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.
Gerald Corey menyatakan dalam perspektif aliran Freud ortodoks, manusia dilihat sebagai sistem energi, dimana dinamika kepribadian itu terdiri dari cara-cara untuk mendistribusikan energi psikis kepada id, ego dan super ego, tetapi energi tersebut terbatas, maka satu diantara tiga sistem itu memegang kontrol atas energi yang ada, dengan mengorbankan dua sistem lainnya, jadi kepribadian manusia itu sangat ditentukan oleh energi psikis yang menggerakkan.
Jadi untuk lebih jelasnya sistem kerja ketiga struktur kepribadian manusia tersebut adalah:
Pertama, Id merupakan sistem kepribadian yang orisinil, dimana ketika manusia itu dilahirkan ia hanya memiliki Id saja, karena ia merupakan sumber utama dari energi psikis dan tempat timbulnya instink. Id tidak memiliki organisasi, buta, dan banyak tuntutan dengan selalu memaksakan kehendaknya. Seperti yang ditegaskan oleh A. Supratika, bahwa aktivitas Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan dan proses primer.
Kedua, Ego mengadakan kontak dengan dunia realitas yang ada di luar dirinya. Di sini ego berperan sebagai “eksekutif” yang memerintah, mengatur dan mengendalikan kepribadian, sehingga prosesnya persis seperti “polisi lalulintas” yang selalu mengontrol jalannya id, super- ego dan dunia luar. Ia bertindak sebagai penengah antara instink dengan dunia di sekelilingnya. Ego ini muncul disebabkan oleh kebutuhan-kebutuhan dari suatu organisme, seperti manusia lapar butuh makan. Jadi lapar adalah kerja Id dan yang memutuskan untuk mencari dan mendapatkan serta melaksanakan itu adalah kerja ego.
Sedangkan yang ketiga, superego adalah yang memegang keadilan atau sebagai filter dari kedua sistem kepribadian, sehingga tahu benar-salah, baik-buruk, boleh-tidak dan sebagainya. Di sini superego bertindak sebagai sesuatu yang ideal, yang sesuai dengan norma-norma moral masyarakat.
Tuesday, June 3, 2008
Aliran Filsafat Pendidikan
Berbicara mengenai dasar pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari aliran filsafat pendidikan yang mendasari pendidikan yang diantaranya adalah aliran progresivisme, aliran esensialisme, aliran perenialisme, dan aliran konstruktivisme.
1. progresivisme
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannyamemfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini aalah George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu, progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter.
Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan (yang baik), karena kurang menghargai dan memberikan tempat yang semestinya kepada kemampuan-kemampuan dalam proses pendidikan. Padahal semua itu adalah ibarat motor penggerak manusia dalam usahanya untuk mengalami kemajuan (proggress).
Oleh karena itu, kemajuan (progress) ini menjadi perhatian kaum progresivisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang oleh progresivisme merupakan bagian-bagain utama dari sebuah peradaban.
2. Essensialisme
Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai pendidikan yang berbeda dengan progresivisme. Kalau progresivisme menganggap bahwa banyak hal yang mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai yang dapat berubah serta berkembang, essensialisme menganggap bawa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadikan timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.
Pendidikan yang bersendikan tata nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Dengan demikian, pendidikan haruslah bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih agar mempunyai tata yang jelas dan yang telah diuji oleh waktu. Dengan demikian, prinsip essensialisme menghendaki agar landasan-landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang essensial dan bersifat menuntun.
3. Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik, Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
* Pandangan mengenai Belajar
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah:
1. Mental Disiplin sebagai Teori Dasar
Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.
2. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan
Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan. Otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk-makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.
3. Learning to Reason (Belajar dan Berpikir)
Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
4. Belajar sebagai Persiapan Hidup
Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, keidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.
5. Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)
Aler membedakan antara ”learning by instruction” dan ”learning by discovery”, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai ’murid’ yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery, dan ia melakukan ’moral authority’ atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.
4. Konstruktivisme
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjai lebi dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui prosessaling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkaninformasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasan tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.
1. progresivisme
Progresivisme adalah suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannyamemfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini aalah George Axtelle, William O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas dan Frederick C. Neff.
Progresivisme mempunyai konsep yang didasari oleh kepercayaan bahwa manusia itu mempunyai kemampuan-kemampuan yang wajar dan dapat menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang bersifat menekan atau mengancam keberlangsungan manusia itu sendiri. Sehubungan dengan hal itu, progresivisme kurang menyetujui adanya pendidikan yang bercorak otoriter.
Pendidikan yang bercorak otoriter ini dapat diperkirakan mempunyai kesulitan untuk mencapai tujuan-tujuan (yang baik), karena kurang menghargai dan memberikan tempat yang semestinya kepada kemampuan-kemampuan dalam proses pendidikan. Padahal semua itu adalah ibarat motor penggerak manusia dalam usahanya untuk mengalami kemajuan (proggress).
Oleh karena itu, kemajuan (progress) ini menjadi perhatian kaum progresivisme, maka beberapa ilmu pengetahuan yang mampu menumbuhkan kemajuan dipandang oleh progresivisme merupakan bagian-bagain utama dari sebuah peradaban.
2. Essensialisme
Essensialisme mempunyai tinjauan mengenai pendidikan yang berbeda dengan progresivisme. Kalau progresivisme menganggap bahwa banyak hal yang mempunyai sifat yang serba fleksibel dan nilai-nilai yang dapat berubah serta berkembang, essensialisme menganggap bawa dasar pijak semacam ini kurang tepat. Dalam pendidikan, fleksibilitas dalam segala bentuk dapat menjadikan timbulnya pandangan yang berubah-ubah, pelaksanaan yang kurang stabil dan tidak menentu.
Pendidikan yang bersendikan tata nilai-nilai yang bersifat demikian ini dapat menjadikan pendidikan itu sendiri kehilangan arah. Dengan demikian, pendidikan haruslah bersendikan pada nilai-nilai yang dapat mendatangkan stabilitas. Agar dapat terpenuhi maksud tersebut nilai-nilai itu perlu dipilih agar mempunyai tata yang jelas dan yang telah diuji oleh waktu. Dengan demikian, prinsip essensialisme menghendaki agar landasan-landasan pendidikan adalah nilai-nilai yang essensial dan bersifat menuntun.
3. Perenialisme
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.
Dalam pendidikan, kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik, Mohammad Noor Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
* Pandangan mengenai Belajar
Teori dasar dalam belajar menurut perenialisme adalah:
1. Mental Disiplin sebagai Teori Dasar
Penganut perenialisme sependapat bahwa latihan dan pembinaan berpikir (mental discipline) adalah salah satu kewajiban tertinggi dari belajar, atau keutamaan dalam proses belajar (yang tertinggi). Karena itu teori dan program pendidikan pada umumnya dipusatkan kepada pembinaan kemampuan berpikir.
2. Rasionalitas dan Asas Kemerdekaan
Asas berpikir dan kemerdekaan harus menjadi tujuan utama pendidikan. Otoritas berpikir harus disempurnakan sesempurna mungkin. Dan makna kemerdekaan pendidikan ialah membantu manusia untuk menjadi dirinya sendiri, be him-self, sebagai essential-self yang membedakannya daripada makhluk-makhluk lain. Fungsi belajar harus diabdikan bagi tujuan ini, yaitu aktualitas manusia sebagai makhluk rasional yang dengan itu bersifat merdeka.
3. Learning to Reason (Belajar dan Berpikir)
Perenialisme tetap percaya dengan asas pembentukan kebiasaan dalam permulaan pendidikan anak. Kecakapan membaca, menulis dan berhitung merupakan landasan dasar. Dan berdasarkan pentahapan itu, maka learning to reason menjadi tujuan pokok pendidikan sekolah menengah dan pendidikan tinggi.
4. Belajar sebagai Persiapan Hidup
Bagi Thomisme, belajar untuk berpikir dan belajar untuk persiapan hidup (dalam masyarakat) adalah dua langkah pada jalan yang sama, yakni menuju kesempurnaan hidup, keidupan duniawi menuju kehidupan syurgawi.
5. Learning through Teaching (belajar melalui Pengajaran)
Aler membedakan antara ”learning by instruction” dan ”learning by discovery”, penyelidikan tanpa bantuan guru. Dan sebenarnya learning by instruction adalah dasar dan menuju learning by discovery, sebagai self education. Menurut perenialisme, tugas guru bukanlah perantara antara dunia dengan jiwa anak, melainkan guru juga sebagai ’murid’ yang mengalami proses belajar sementara mengajar. Guru mengembangkan potensi-potensi self discovery, dan ia melakukan ’moral authority’ atas murid-muridnya, karena ia adalah seorang professional yang qualified dan superior dibandingkan muridnya.
4. Konstruktivisme
Teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjai lebi dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:
1. Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.
2. Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.
3. Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui prosessaling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.
4. Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkaninformasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.
5. Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasan tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.
6. Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik miknat pelajar.
Tuesday, April 22, 2008
Angket sederhana
Angket Sederhana
A. 5 karakter guru terbaik menurut saya:
1. Ramah, artinya seorang guru itu tidak boleh membentak anak didiknya.
2. Memahami keadaan para siswanya, bukan hanya di dalam kelas saja akan tetapi keadaan di luar kelas juga. Seperti keadaan keluarganya. Guru itu di kelas harus bisa menjadi orang tua bagi para siswanya. Baik guru maupun guru Bimbingan Konseling harus bisa mengetahui Multiple Intelligences atau kecerdasan jamak yang dimiliki oleh para siswanya. Karena para siswa tidak semuanya menyukai pelajaran yang diajarkan. Akan tetapi ada salah satu yang mereka sukai. Atau mungkin bisa saja di luar mata pelajaran, seperti kursus-kursus atau Pendidikan Non Formal.
Multiple Intelligences yang merupakan teori yang dikemukakan oleh Psikolog dan profesor dari Harvard University, Howard Gardner. Dalam teorinya, Gardner mengemukakan tujuh jenis kecerdasan, yakni, linguistik, bermusik, logika matematika, spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal. Dengan memahami teori ”Multiple Intelligences" yang dikemukakan Gardner, guru, pegawai administrasi sekolah, dan orang tua dapat lebih memahami siswa. Mereka dapat membimbing siswa belajar dalam berbagai macam cara, dan membantu mengarahkan siswa belajar mandiri.
3. Menguasai kelas, dalam artian seluruh siswa harus diteliti. Jangan sampai siswa merasa bosan berada di dalam kelas.
4. Mempunyai Inovasi terhadap pembelajaran, jadi di dalam kelas itu seorang guru memiliki ide-ide yang kreatif yang membangun pola pikir para siswa.
5. Menguasai bahan pengajaran, dan bisa menyampaikannya kepada murid dengan baik. Jangan sampai hanya bisa mengetahui materi itu untuk diri pribadi tapi tidak mampu menyampaikannya dengan benar agar nantinya bisa dimengerti oleh para siswanya tersebut.
B. 5 karakter guru terburuk menurut saya:
1. Gampang marah. Seorang guru tidak boleh semena-mena terhadap para siswanya, karena tugas guru adalah mendidiknya dengan cara-cara yang sesuai, bukan dengan meluapkan emosinya.
2. Membawa-bawa masalah pribadi ke dalam kelas. Misalnya seorang guru itu mempunyai masalah di dalam keluarganya, maka jika sudah berada di dalam kelas hendaknya bisa memposisikan bahwa dia sekarang berada di dalam kelas dan yang dihadapi adalah anak didik, bukan merupakan orang yang sedang ada masalah. Masalah yang sedang dihadapi itu disimpan dulu dan jika sudah keluar dari kelas baru masalah tersebut dicoba diselesaikan tanpa mengaitkannya dengan keadaan di kelas tadi. Tujuannya supaya para siswa tetap bisa belajar dengan baik, begitupun yang mengajarnya.
3. Tidak menerima pendapat dari para siswanya, ingin menang sendiri. Seorang guru yang seperti itu maka tidak akan dianggap oleh para siswanya. Logisnya, jika seseorang ingin dihargai maka harus bisa mencoba menghargai orang lain pula. Jadi jika guru ingin dihargai, baik itu pembicaraannya atau pendapatnya maka otomatis guru juga harus bisa menghargai para siswanya.
4. Tidak peduli terhadap keadaan di kelas. Jika seorang guru niatnya hanya sebatas melaksanakan tugas saja, tanpa memikirkan sesungguhnya bagaimana proses belajar dan mengajar yang baik itu. Maka tidak akan tercipta proses belajar mengajar yang kondusif dan teratur.
5. Jarang masuk, atau sering terlambat. Seorang guru harus memberikan contoh yang baik terhadap para siswanya. Karena jika guru tidak masuk atau terlambat dikhawatirkan para siswanya tidak mengerti untuk belajar sendiri. Yang ada hanyalah digunakan dengan hal-hal yang tidak mendukung terhadap pembelajaran. Atau jika alas an tidak masuknya karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, maka minimalnya memberi tugas dan menunjuk ketua kelasnya agar bisa mengkondisikan keadaan kelas dengan baik.
A. 5 karakter guru terbaik menurut saya:
1. Ramah, artinya seorang guru itu tidak boleh membentak anak didiknya.
2. Memahami keadaan para siswanya, bukan hanya di dalam kelas saja akan tetapi keadaan di luar kelas juga. Seperti keadaan keluarganya. Guru itu di kelas harus bisa menjadi orang tua bagi para siswanya. Baik guru maupun guru Bimbingan Konseling harus bisa mengetahui Multiple Intelligences atau kecerdasan jamak yang dimiliki oleh para siswanya. Karena para siswa tidak semuanya menyukai pelajaran yang diajarkan. Akan tetapi ada salah satu yang mereka sukai. Atau mungkin bisa saja di luar mata pelajaran, seperti kursus-kursus atau Pendidikan Non Formal.
Multiple Intelligences yang merupakan teori yang dikemukakan oleh Psikolog dan profesor dari Harvard University, Howard Gardner. Dalam teorinya, Gardner mengemukakan tujuh jenis kecerdasan, yakni, linguistik, bermusik, logika matematika, spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal. Dengan memahami teori ”Multiple Intelligences" yang dikemukakan Gardner, guru, pegawai administrasi sekolah, dan orang tua dapat lebih memahami siswa. Mereka dapat membimbing siswa belajar dalam berbagai macam cara, dan membantu mengarahkan siswa belajar mandiri.
3. Menguasai kelas, dalam artian seluruh siswa harus diteliti. Jangan sampai siswa merasa bosan berada di dalam kelas.
4. Mempunyai Inovasi terhadap pembelajaran, jadi di dalam kelas itu seorang guru memiliki ide-ide yang kreatif yang membangun pola pikir para siswa.
5. Menguasai bahan pengajaran, dan bisa menyampaikannya kepada murid dengan baik. Jangan sampai hanya bisa mengetahui materi itu untuk diri pribadi tapi tidak mampu menyampaikannya dengan benar agar nantinya bisa dimengerti oleh para siswanya tersebut.
B. 5 karakter guru terburuk menurut saya:
1. Gampang marah. Seorang guru tidak boleh semena-mena terhadap para siswanya, karena tugas guru adalah mendidiknya dengan cara-cara yang sesuai, bukan dengan meluapkan emosinya.
2. Membawa-bawa masalah pribadi ke dalam kelas. Misalnya seorang guru itu mempunyai masalah di dalam keluarganya, maka jika sudah berada di dalam kelas hendaknya bisa memposisikan bahwa dia sekarang berada di dalam kelas dan yang dihadapi adalah anak didik, bukan merupakan orang yang sedang ada masalah. Masalah yang sedang dihadapi itu disimpan dulu dan jika sudah keluar dari kelas baru masalah tersebut dicoba diselesaikan tanpa mengaitkannya dengan keadaan di kelas tadi. Tujuannya supaya para siswa tetap bisa belajar dengan baik, begitupun yang mengajarnya.
3. Tidak menerima pendapat dari para siswanya, ingin menang sendiri. Seorang guru yang seperti itu maka tidak akan dianggap oleh para siswanya. Logisnya, jika seseorang ingin dihargai maka harus bisa mencoba menghargai orang lain pula. Jadi jika guru ingin dihargai, baik itu pembicaraannya atau pendapatnya maka otomatis guru juga harus bisa menghargai para siswanya.
4. Tidak peduli terhadap keadaan di kelas. Jika seorang guru niatnya hanya sebatas melaksanakan tugas saja, tanpa memikirkan sesungguhnya bagaimana proses belajar dan mengajar yang baik itu. Maka tidak akan tercipta proses belajar mengajar yang kondusif dan teratur.
5. Jarang masuk, atau sering terlambat. Seorang guru harus memberikan contoh yang baik terhadap para siswanya. Karena jika guru tidak masuk atau terlambat dikhawatirkan para siswanya tidak mengerti untuk belajar sendiri. Yang ada hanyalah digunakan dengan hal-hal yang tidak mendukung terhadap pembelajaran. Atau jika alas an tidak masuknya karena ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan, maka minimalnya memberi tugas dan menunjuk ketua kelasnya agar bisa mengkondisikan keadaan kelas dengan baik.
Tuesday, April 15, 2008
Aktivitas Umum Manusia
Jelaskan apakah pengertian psikologi dari aktivitas umum manusia?
1. Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek, baik di dalam maupun di luar dirinya. Perhatian berhubungan erat dengan kesadaran jiwa terhadap sesuatu objek yang direaksi pada sesuatu waktu. Terang tidaknya kesadaran kita terhadap sesuatu objek tertentu tidak tetap. Ada kalanya kesadaran kita meningkat (menjadi terang), dan ada kalanya menurun (menjadi samar-samar). Keadaan lapangan kesadaran dan kekuatannya tidak tetap pula, kadang-kadang luas dan kadang-kadang menjadi sempit. Hali itu tergantung pada pengetahuan aktivitas jiwa terhadap objek tersebut.
Taraf kesadaran kita akan meningkat kalau jiwa kita dalam mereaksi sesuatu meningkat juga.
2. Pengamatan
Pengamatan atau persepsi adalah aktifitas jiwa yang memungkinkan manusia mengenali rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat-alat inderanya, dengan kemampuan inilah kemungkinan kemampuan manusia/individu mengenali milieu.
Kemampuan pengamatan/persepsi manusia itu tidak hanya terbatas kepada rangsangan yang berasal dari benda-benda atau objek-objek yang berasal dari alam luar. Tetapi juga dapat mengenali rangsangan sakit, lapar dan dahaga yang merupakan fakta-fakta objektif dari dalam diri kita, yang tidak tampak rupanya tetapi gejalanya kita rasakan. Dan proses pengenalan kita dalam hal ini juga dengan pengamatan kita terhadap sesuatu dari alam luar
3. Tanggapan
Tanggapan adalah bayangan atau kesan kenangan dari pada apa yang pernah kita amati atau kenali.segala sesuatu yang pernah kita amati atau alami selalu tertinggal jejaknya atau kesannya di dalam jiwa kita. Hali itu dimungkinkan oleh kesanggupan chemis dari pada jiwa kita. Bekas jejak atau kesan yang tertinggal pada kita itu dapat kita timbulkan kembali (reproduksi) sebagai tanggapan.
4. Fantasi
Fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan-tanggapan yangt sudah ada pada diri kita. Jadi cirri khas dari gejala jiwa ini adalah unsur menciptakan sesuatu yang baru dalam jiwa.
5. Ingatan
Ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksikan kesan-kesan. Jadi ada 3 unsur dalam perbuatan ingatan, adalah : menerima kesan-kesan, menyimpan dan mereproduksikan.
Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami.
6. Berpikir
Berpikir adalah aktifitas jiwa yang mempunyai kecenderungan final (final tendency) yaitu pemecahan persoalan yang dihadapi. Untuk mencapai tujuan itu dalam kegiatan berpikir kita menggunakan pengalaman-pengalaman yang telah ada pada diri kita. Berpikir itu adalah suatu akta psikis yang bersifat dinamis, dimana individu itu sendiri yang merupakan penggerak prosesnya.
6. Perasaan
Perasaan sebagai fungsi jiwa adalah mempunyai arti memulai terhadap situasi dimana dengan kita berpadu secara pribadi. Situasi-situasi yang menyenangkan kita nilai secara negatif.
7. Motif
Motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang mendorong orang untuk bertingkah laku atau berbuat sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu
1. Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang diarahkan kepada sesuatu objek, baik di dalam maupun di luar dirinya. Perhatian berhubungan erat dengan kesadaran jiwa terhadap sesuatu objek yang direaksi pada sesuatu waktu. Terang tidaknya kesadaran kita terhadap sesuatu objek tertentu tidak tetap. Ada kalanya kesadaran kita meningkat (menjadi terang), dan ada kalanya menurun (menjadi samar-samar). Keadaan lapangan kesadaran dan kekuatannya tidak tetap pula, kadang-kadang luas dan kadang-kadang menjadi sempit. Hali itu tergantung pada pengetahuan aktivitas jiwa terhadap objek tersebut.
Taraf kesadaran kita akan meningkat kalau jiwa kita dalam mereaksi sesuatu meningkat juga.
2. Pengamatan
Pengamatan atau persepsi adalah aktifitas jiwa yang memungkinkan manusia mengenali rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat-alat inderanya, dengan kemampuan inilah kemungkinan kemampuan manusia/individu mengenali milieu.
Kemampuan pengamatan/persepsi manusia itu tidak hanya terbatas kepada rangsangan yang berasal dari benda-benda atau objek-objek yang berasal dari alam luar. Tetapi juga dapat mengenali rangsangan sakit, lapar dan dahaga yang merupakan fakta-fakta objektif dari dalam diri kita, yang tidak tampak rupanya tetapi gejalanya kita rasakan. Dan proses pengenalan kita dalam hal ini juga dengan pengamatan kita terhadap sesuatu dari alam luar
3. Tanggapan
Tanggapan adalah bayangan atau kesan kenangan dari pada apa yang pernah kita amati atau kenali.segala sesuatu yang pernah kita amati atau alami selalu tertinggal jejaknya atau kesannya di dalam jiwa kita. Hali itu dimungkinkan oleh kesanggupan chemis dari pada jiwa kita. Bekas jejak atau kesan yang tertinggal pada kita itu dapat kita timbulkan kembali (reproduksi) sebagai tanggapan.
4. Fantasi
Fantasi adalah suatu daya jiwa untuk menciptakan tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan-tanggapan yangt sudah ada pada diri kita. Jadi cirri khas dari gejala jiwa ini adalah unsur menciptakan sesuatu yang baru dalam jiwa.
5. Ingatan
Ingatan adalah kekuatan jiwa untuk menerima, menyimpan dan memproduksikan kesan-kesan. Jadi ada 3 unsur dalam perbuatan ingatan, adalah : menerima kesan-kesan, menyimpan dan mereproduksikan.
Dengan adanya kemampuan untuk mengingat pada manusia ini berarti ada suatu indikasi bahwa manusia mampu untuk menyimpan dan menimbulkan kembali dari sesuatu yang pernah dialami.
6. Berpikir
Berpikir adalah aktifitas jiwa yang mempunyai kecenderungan final (final tendency) yaitu pemecahan persoalan yang dihadapi. Untuk mencapai tujuan itu dalam kegiatan berpikir kita menggunakan pengalaman-pengalaman yang telah ada pada diri kita. Berpikir itu adalah suatu akta psikis yang bersifat dinamis, dimana individu itu sendiri yang merupakan penggerak prosesnya.
6. Perasaan
Perasaan sebagai fungsi jiwa adalah mempunyai arti memulai terhadap situasi dimana dengan kita berpadu secara pribadi. Situasi-situasi yang menyenangkan kita nilai secara negatif.
7. Motif
Motif adalah dorongan atau kekuatan dari dalam diri seseorang yang mendorong orang untuk bertingkah laku atau berbuat sesuatu untuk mencapai suatu tujuan tertentu
Subscribe to:
Posts (Atom)